Bukannya mau ikut-ikutan polemik yang lagi ramai, tapi cuma lagi iseng saja. Sering orang menjadi pusing ketika harus mengkategorikan atau mengklasifikasikan sesuatu. Begitu juga sering kondisi menjadi carut marut tidak karuan, ketika terjadi proses penggolongan yang ngawur. Kategorisasi obyek ini adalah salah satu hal yang sering difikirkan oleh mbah Betrand Russel, sehingga dikenal dengan istilah paradox Russel [http://plato.stanford.edu/entries/russell-paradox/]

Hacker sejati

Apalagi keterbatasan kapasitas pikir manusia menjadikan orang cenderung melakukan generalisasi. Sedangkan kekurangan informasi atau ketidak pastian menyebabkan orang melakukan prediksi. Bagaimana kalau gabungan keduanya ? Kekurangan informasi dan keterbatasan kapasitas pikiran ? Akibatnya prediksi yang penuh generalisasi dan memiliki kemungkinan salah besar (walau bisa juga benar). Bagi yang tertarik dengan matematika, bisa membaca tulisan pak Dubois et al., dalam teori yang menggabungkan probabilitas dan possibilitas di dalam uncertainty dan incomplete information [http://citeseer.ist.psu.edu/118059.html]

Mirip dengan kasus ini klasifikasi blogger, hacker, cracker, carder. Semuanya penuh dengan ketidak lengkapan informasi dan ketidak tepatan definisi. Sebagai contoh mari kita lihat dari sisi bahasa blogger : blog+er, artinya pertama kali kita harus tahu apakah blog itu? Nah di sinilah mulai ketidak jelasan definisi, karena apakah blog itu ? Apakah model konten dengan pola interaksi dan alur tertentu ? Atau ada definisi lain. Siapakah yang memiliki otoritas menentuakn definisi blog itu ? Pakar blog, bapak blog, atau siapa saja ?

Sebab ada juga definisi agak membabi-buta yang menganggap, kalau tidak memakai engine blog yang umum seperti Wordpress [http://www.wordpress.org] atau Drupal [http://www.drupal.org] maka tidak disebut blog. Ada juga yang menganggap kalau tidak ditulis dengan gaya penceritaan orang pertama (saya) dan tidak terkesan pribadi maka tidak pantas disebut blog. Nah dengan definisi yang masih tidak jelas ini, ditambah dengan “er” (pelakunya) maka menjadi makin runyam lagi. Maka lengkaplah sudah kebingungan pengelompokan.  Siapakah blogger ? Bisa jadi siapa saja.

Begitu juga dengan hacker vs cracker. Istilah hacker sendiri mengalami transformasi dari arti yang bersifat “putih” menjadi sedikit abu-abu. Apalagi di beberapa negara memiliki konotasi yang tidak sama. Sebagai contoh di negara USA mungkin hacker bisa dipisahkan putih atau hitam, tetapi di negara seperti Jerman relatif hacker cenderung memiliki konotasi negatif (seperti cracker) karena bahasa Jerman memiliki istilah sendiri untuk hacker yang positif. Walau di Jerman ada kelompok Chaos Computer Club [http://www.ccc.de] tapi jarang sekali mereka mendeklarasikan dirinya sebagai hacker, lebih suka sebagai pengeksporasi teknologi.

Bagaimana Indonesia ? Kita adalah penyerap istilah yang baik tetapi kadang kelewatan kreatif karena sifat membabi buta. Indonesia tidak seperti Jerman yang telah memiliki kata hacker tetapi kita menyerap dari istilah hacker di USA yang dapat memiliki konotasi positif (alias tukang oprek). Sehingga penggunaan hacker untuk mendefinisikan orang yang melakukan penetrasi secara tidak sah sangatlah menyinggung perasaan. Seperti kata lagu dangdut “Teganya kau tuduh diriku“.  Mungkin sudah pada saatnya kita menggunakan istilah yang membumi, gaul dan funky, yaitu pengoprek (istilah peretas seperti KBBI masih sangat membingungkan).

Memang antara hacker dan cracker tipis bedanya. Sepertinya hanya faktor intensi dan keabsahan saja. Tetapi sebetulnya lebih dari itu, hacker cenderung menikmati proses menghack bukan hasilnya. Sedangkan cracker lebih cenderung menyukai hasilnya saja, misal berhasil masuk tanpa izin. Sehingga kalau hacker cenderung ingin mengeksplorasi “BAGAIMANA” nya ,sedangkan cracker cenderung fokus pada TUJUAN, dan menerapkan prinsip ekonomis, yaitu semudah mungkin, secepat mungkin, agar berhasil masuk ke suatu sistem. Hal ini jelas dari langkah yang dilakukan, ketika melakukan penetrasi seorang cracker cenderung melakukan scan secara massal, cari sistem yang paling mungkin masuk, misal dengan exploit tool paling mudah, masuk dan pajang jejak sebagai bukti telah masuk (hasil sebagai tujuan). Istilahnya kalau ada exploit yang siap pakai, ngapain susah-susah bikin exploit sendiri.

Sedangkan seorang hacker cenderung menikmati prosesnya, misal ingin melakukan uji penetrasi dia lebih cenderung pada tantangannya. Jadi jarang yang melakukan scan massal, cari situs dengan kelemahan yang ada exploit termudah dan masuk, tetapi melihat sasaran, mempelajari konfigurasi, memeriksa celah yang mungkin, dan bila perlu menulis tool khusus atau melakuakn reverse engineering untuk mencari celahnya. Dan bila berhasil masuk, biasanya hanya memberi tahu pengelolanya di mana kelemahannya.

Jadi hacker sejati jarang sekali hanya tertarik untuk meninggalkan jejak di situs, apalagi situs yang tidak ada hubunganya, hanya karena situs itu memang eksploitnya ada dan terbuka. Kegiatan melakukan scan massal dan melihat lobang lalu masuk, lebih mirip seperti vandalisme digital, melakukan grafiti di tempat yang tidak diawasi. Penguji penetrasi yang biasanya tidak ingin meninggalkan jejak, misal mengubah halaman utama atau halaman yang ada.

Kalau carder agak jelas kelompoknya, mereka memakai data kartu kredit orang lain. Tetapi orang masuk ke kelompok-kelompok tersebut bukan secara eksklusif, artinya bila seseorang di kelompok A, maka dia tidak di kelompok B. Jadi ada yang tergolong semuanya, ya dia ngeblog, ngehack juga, dan kalau lagi iseng ngecrack dan pas mau belanja pakai kartu orang alias jadi carder. Tapi ada juga yang tidak termasuk semuanya, ngeblog ndak, ngehack juga ndak, pakai kartu kredit orang juga ndak pernah.

Nah permasalahan menjadi rumit ketika orang yang termasuk golongan A dituduh sebagai golongan B. Atau ketika golongan X yang begitu beragam dituduh sebagai anggota golongan Y. Walaupun memang ada anggota golongan X yang anggota golongan Y juga.

Jadi bagaimana donk ? Nah untuk menghindari kekacauan kategorisasi ini,sebetulnya mudah, yaitu hindari generalisasi berlebihan apalagi bila tanpa informasi yang lengkap. Media massa harus berperan dalam mengurangi generalisasi berlebihan ini, jangan malah bikin generalisasi yang kacau balau.

Tags:

Posted by: imw85 | 2 April 2008

Runtuhnya ISO sebagai badan standard dunia

Dengan diterimanya OOXML sebagai standard ISO [http://www.iso.org/iso/pressrelease.htm?refid=Ref1123], maka banyak orang dan badan pemerintahan menjadi skeptis dengan masa depan ISO sebagai badan standard dunia. Bukan apa-apa, karena OOXML ini merupakan standard yang sangat kontroversial. Dari proses pengajuannya (yang sangat distir oleh Microsoft, bukan oleh tim independen), yang proses standardisasi melalui jalur fast-track, serta juga cakupan standardnya yang menjadi duplikasi dengan ODF yang telah diterima sebagai standard ISO. Mekanisme lobby dan “permainan” di dalam voting di tiap negara menjadikan sifat kontroversial standard ini sanga tinggi.

Memang pihak Microsoft sangat halus dan lihai dalam bermain dengan standard ini, dari langkah menyerahkannya ke ECMA sehingga dikenal sebagai standard ECMA dan yang mengajukan adalah ECMA. Hingga pendekatan yang dilakukan ke pemerintah-pemerintah negara yang relatif tidak memiliki kapabalitas untuk menganalisis standard yang segepok itu (4000  halaman). Tentu saja dengan kenyataan bahwa ISO sangat ditentukan oleh suara per negara. Gerilya mendekati banyak negara “kecil” yang relatif manut saja membuahkan hasil yang menggoalkan standard ini. Walau banyaknya keberatan tidak dipenuhi oleh pengaju standard ini, tapi tetap saja diterima sebagai standard internasional.

Berbagai kasus terjadi misal dalam pengambilan keputusan di berbagai negara.

  • Norwegia, juga memiliki proses voting yang sangat kontroversia, sehingga menyebabkan suara Yes dari yang sebagian besar No. Akhirnya pemerintah Norwegia membatalkan voting dan melakukan investigasi
  • Filipina [http://www.mb.com.ph/issues/2008/04/01/INFO20080401120787.html], yang semula dari No menjadi Yes, dengan selilsih tipis 5-4 di mana suara terakhir ditentukan ketua komite
  • Di Jerman dan Kroatia juga mengundang kecurigaan banyak orang.
  • Di Prancis dari yang semula No menjadi Abstain, perubahan ini dicurigai ada pengaruh lobby dari vendor.

Banyak kasus yang terjadi baik dari awal proses ditentukannya sebagai fast-track hingga dipilihnya menjadi standard ISO. Tentu saja vendor Microsoft sangat “berjudi” dalam standard ini, sebab penolakan sebagai standard ISO akan membuat kartu mati untuk penggunaan MS Office atau produk MS yang menggunakan format OOXML, sebab di beberapa negara ada aturan untuk memenuhi standard dunia. Microsoft sebagai vendor yang membuat OOXML dan BELUM menerapkannya dalam produknya menjadi kekhawatiran teknis diterimanya standard ini. Apalagi track record Microsoft untuk masalah kompatibiltias sangat buruk, bukan saja kompatibilitas dengan produk dari vendor lain, tetapi kompatibilitas antar produknya.

Kekacauan dan kekisruhan voting OOXML yang menelurkan keputusan ISO untuk menerima OOXML sebagai standard, menjadikan orang melihat kelemahan proses standardisasi ISO serta kelemahan badan seperti ISO. Kemenangan OOXML merupakan keruntuntuhan ISO, sebagai badan yang “fair” dan bebas interest.

Bagi yang ingin mengikuti keanehan voting ISO ini bisa membaca koleksi di situs NoOOXML.org [http://www.noooxml.org/irregularities]. Kalau Malaysia sepakat menyatakan No bagaimana Indonesia ? Abstain saja biar aman, atau ndak mudeng ?

Tags:

Posted by: imw85 | 29 Maret 2008

Dikeroyok pasukan Bionicle

Madhava doyan banget main permainan konstruktif, orangtuanya juga sih. Akhirnya mengoleksilah kami beragam mainan jenis tersebut, dari LEGO [http://www.lego.com], Meccano [http://www.meccano.com/] , Eitech [http://www.eitech.de], Fischertechnik [http://www.fischertechnik.de/], Play Mobil [www.playmobil.com/] dan sebagainya. Tidak hanya model konstruksi yang dari plastik, tapi juga dari kertas dan kayu. Difikir-fikir sih seperti mainan anak kecil jaman dulu, dari kulit jeruk, dari kayu. Sayang anak kecil di Indonesia jaman sekarang lebih merasa bergaya kalau main Playstation atau sejenisnya.

 

Pasukan Bionicle

 

Sebagian besar mainan Madhava termasuk kereta model Märklin [http://www.maerklin.de] sudah dikirim ke Indonesia, maka Madhava sekarang hanya bisa bermain dengan sisa-sisa koleksinya. Kebetulan beberapa koleksi Bionicle [http://bionicle.lego.com] masih ada yang tertinggal. Mainan ini tidak kami beli satu model per satu model, tapi kami beli borongan satu kotak. Ya jelaslah harganya murah, sebab bukan dari toko mainan dan sudah terpisah-pisah. Yang penting kan nilai bermainnya tetap tercapai. Termasuk bermain bersama orang tua, jadi prinsip kami mainan bukan pengganti orang tua agar si Madhava asik bermain, tetapi dengan mainan kami bertiga bisa lebih asyik bermain. Soal mencari mainan berharga miring, istri saya itu ekspertnya. Saya cukup pasrah aja dan paling penentu selera.

Saya dan istri karena memang dasarnya hobby berprakarya jadi seneng mainan yang sifatnya konstruktif (mungkin akhirnya jadi edukatif juga). Kalau lagi tidak ada ya kami bertiga berprakarya apa saja. Ya maklum dampaknya rumah jadi sering berantakan, bahan prakarya ada di mana-mana, kadang rumah tamu seperti kapal pecah.

Kembali ke robot Bionicle ini, tentu saja dibutuhkan ketahanan mental dan ketabahan, untuk mereka-reka bentuk robot tersebut, karena komponennya memang bercampur-campur (bahkan bercampur deengan Lego Technik). Berbeda bila kita membeli Bionicle di toko yang 1 kotak pasti akan jadi 1 figur robot. Lebih dari 4 jam kami bertiga, saya, istri saya (Anthi), dan Madhava sibuk mereka-reka dan merangkai-rangkai dari sekotak bagian bionicle ini. Akhirnya jadi lah berbagai bentuk robot yang tidak ada di katalog. Dihitung-hitung siang itu ada lebih dari 25 robot pasukannya Madhava. Adit pun kebagian berkarya membuat robot dari bahan-bahan tersisa.

Dikerubutin

Setelah jadi, robot-robot itu dibariskan dan Madhava mulai berkhayal. Dia menjadi ninja yang dikeroyok oleh robot bionicle. Tapi dasar Madhava masih juga merengek minta jenis Lego lainnya. Kali ini dia minta koleksi Exoforce [http://exoforce.lego.com/]. Dasar Madhava, artinya istri saya harus berburu mainan murah lagi !

Tags:

Posted by: imw85 | 26 Maret 2008

Menu serba tahu di libur Paskah

Menu serba tahu ini gara-gara saya kebanyakan beli tahu alias tofu. Ya beginilah karena istri sakit, maka saya yang belanja jadi ngawur deh. Memang rumah tangga kalau sang super woman lagi sakit, bisa oleng ndak karuan. Jadi jangan remehkan posisi ibu-ibu di rumah tangga. Bapak boleh ngaku dan sombong sebagai kepala rumah tangga, tapi sebetulnya ndak ada apa-apanya dibandingkan ibu. Jangan remehkan ibu-ibu yang mengisi kolom pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, difikir-fikir pekerjaan dan tanggung jawabnya lebih rumit dari CEO tambah CTO tambah CIO.

Akibat kebanyakan stock tahu, hari Minggu ini, mau tidak mau harus dimasak. Hm… harus mulai mikir masak apa ya? Blogwalking ke blog-blog orang Indonesia untuk mencari idea memasak. Sebagai bangsa yang memiliki teknologi dan seni memasak yang tinggi, maka blog orang Indonesia bagaikan harta karun resep masakan. Menurut saya pribadi, bukan Paris atau Eropa pusat masakan dunia, tapi Indonesia. Biasanya masakan Eropa yang disebut enak, karena aneh atau dari bahan yang langka. Tapi kalau di Indonesia restoran atau makanan yang enak memang karena mak nyus.

Akhirnya saya memutuskan membuat baso tahu dan somay aja. Yang gampang dan cukup nikmat, apalagi cuaca cukup mendukung, dingin-dingin terbayang teriakan tukang bakso. Dari 2 buah tahu, 1 tahu akan saya jadikan bakso tahu dan 1 tahu saya jadikan pelengkap somay. Tahu saya hancurkan, dan saya tambahkan sarden kaleng agar ada rasa ikannya. Sementara itu, daging ayam (sedikit saja, sebab kebanyakan daging kurang baik bagi kantong dan kesehatan), saya rebus terlebih dahulu. Kuah kaldunyanya saya ambil sedikit untuk memberi rasa ayam ke adonan tahu. Kombinasi ikan-ayam memberikan cita rasa yang khas untuk somay dan bakso tahu. Lalu tahu lalu saya bentuk bulat-bulat seperti bakso (tentu saja pakai tangan biar enak gitu lho) dan digoreng agar permukaannya keras. Lumayan disamping bisa buat makan, bisa juga buat cemilan.

Untuk tahu yg akan dijadikan pelengkap somay, saya goreng sebentar terlebih dahulu, biar luarnya kering. Lalu saya potong menjadi bentuk segi tiga. Setelah itu bagian tengahnya tahu dikerok dan digunakan untuk adonan somay. Untuk adonan somay, cukup kerokan tahu tersebut, diberi ikan sardin kaleng (saya pilih ikan sarden karena aroma asinnya lebih kuat dari ikan tuna) dan diaduk rata. Setelah itu saya kocok telur, dan tambahkan bawang putih, garam, saus tiram, dan kaldu ayam serta daun bawang. Lalu telor ini saya campurkan ke tahu hasil kerokan tersebut dan diaduk yg rata. Setelah itu diberi tepung terigu dan kanji dan diaduk kembali hingga homogen. Seperti resep masakan Indonesia pada umumnya, jadi tidak ada ukuran yg pas, alias “secukupnya” saja. Setelah adonan jadi, saya masukkan ke tahu yang dikerok tersebut. Kentang dan telor sudah direbus tentunya. Setelah itu sisa adonan saya bentuk bundar-bundar gepeng. Lalu tahu dan teman-temannya ini saya kukus.

Sembari mengukus, saya memasak kuah buat bakso tahu. Kaldu ayam dan daging ayam tersebut. Potongan daging ayam (ambil sedikit dari daging ayam yang dipakai membuat kaldu) saya tumis terlebih dahulu, agar keluar aroma ayamnya, setelah itu saya tumis bawang bombay setelah layu saya tumis bawang putih. Lalu guyur dengan kaldu ayam, dan tambahkan garam dan merica. Setelah itu saya masukkan wortel (karena permintaan Madhava, maka wortel harus dibentuk seperti bunga, jadi deh berprakarya dulu. Setelah wortel dimasukkan dan agak matang, sawi saya masukkan. Jadi deh kuahnya.

Setelah itu di piring disajikan, tahu dengan isi adonan ikan, bakso tahu, dan diguyur dengan kuah dan sayur-sayuran. Pokoknya 3 M deh, murah, meriah, mantap. Untung bumbu somay cukup dari bumbu pecel, saya tambahi pindakaas (selai kacang tawar), dan tentu saja sedikit cabe rawit. Somay disajikan dengan diberi kecap manis dan ditetesi jeruk limau.

Bakso tahu

Maaf ya buat yang ndak jadi ke rumah saya di akhir minggu ini. Jangan menyesal ya .

Tags:

Posted by: imw85 | 19 Maret 2008

Indonesia menghilang dari peta ICT dunia

Hasil nonton CeBIT 2007 sudah terbit di KONTAN pada hari Jumat dengan judul “Indonesia menghilang dari CeBIT”. Silahkan cari majalah KONTAN untuk mengetahui isinya. Karena rutin mengunjungi CeBIT dan membuat artikel saya terakreditasi sebagai jurnalis di CeBIT.

Kali ini saya datang ke CeBIT 2 kali, pertama karena undangan perusahaan komputer forensik, dan yang ke-2 karena Dhava juga ngebet. Jadi kami bertiga ke CeBIT, saya, Dhava dan Adhit. Anthi, sang istri tercinta bisa istsirahat di rumah. Jadi saya melakukan tugas jurnalistik sembari ngajak DHAVA bermain

Dhava dan IMW Dhava dan robot

Dhava juga sibuk mencari komputer kecil subnotebook seperti Asus eeePC, dan di stand LINPUS dipajang beberapa subnotebook yang menggunakan Linux (LINPUS), kata Dhava gambarnya si Pingu yang bisa terbang.

Pulang dari CeBIT keretanya telat, terus harus menunggu di Minden. Sampai di Bielefeld, Anthi menjemput di Bahnhof, terus ke Mac Donald beli Happy Meal dan mainannya buat Dhava. Padahal kata Dhava, MacDonald itu tidak sehat. Jadi paling banyak 1 bulan 1 kali saja, walaupun Dhava suka minta tambah jadi 1 bulan 2 kali.

Tags: ,

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

FireStats icon Powered by FireStats