Dengan diterimanya OOXML sebagai standard ISO [http://www.iso.org/iso/pressrelease.htm?refid=Ref1123], maka banyak orang dan badan pemerintahan menjadi skeptis dengan masa depan ISO sebagai badan standard dunia. Bukan apa-apa, karena OOXML ini merupakan standard yang sangat kontroversial. Dari proses pengajuannya (yang sangat distir oleh Microsoft, bukan oleh tim independen), yang proses standardisasi melalui jalur fast-track, serta juga cakupan standardnya yang menjadi duplikasi dengan ODF yang telah diterima sebagai standard ISO. Mekanisme lobby dan “permainan” di dalam voting di tiap negara menjadikan sifat kontroversial standard ini sanga tinggi.
Memang pihak Microsoft sangat halus dan lihai dalam bermain dengan standard ini, dari langkah menyerahkannya ke ECMA sehingga dikenal sebagai standard ECMA dan yang mengajukan adalah ECMA. Hingga pendekatan yang dilakukan ke pemerintah-pemerintah negara yang relatif tidak memiliki kapabalitas untuk menganalisis standard yang segepok itu (4000 halaman). Tentu saja dengan kenyataan bahwa ISO sangat ditentukan oleh suara per negara. Gerilya mendekati banyak negara “kecil” yang relatif manut saja membuahkan hasil yang menggoalkan standard ini. Walau banyaknya keberatan tidak dipenuhi oleh pengaju standard ini, tapi tetap saja diterima sebagai standard internasional.
Berbagai kasus terjadi misal dalam pengambilan keputusan di berbagai negara.
- Norwegia, juga memiliki proses voting yang sangat kontroversia, sehingga menyebabkan suara Yes dari yang sebagian besar No. Akhirnya pemerintah Norwegia membatalkan voting dan melakukan investigasi
- Filipina [http://www.mb.com.ph/issues/2008/04/01/INFO20080401120787.html], yang semula dari No menjadi Yes, dengan selilsih tipis 5-4 di mana suara terakhir ditentukan ketua komite
- Di Jerman dan Kroatia juga mengundang kecurigaan banyak orang.
- Di Prancis dari yang semula No menjadi Abstain, perubahan ini dicurigai ada pengaruh lobby dari vendor.
Banyak kasus yang terjadi baik dari awal proses ditentukannya sebagai fast-track hingga dipilihnya menjadi standard ISO. Tentu saja vendor Microsoft sangat “berjudi” dalam standard ini, sebab penolakan sebagai standard ISO akan membuat kartu mati untuk penggunaan MS Office atau produk MS yang menggunakan format OOXML, sebab di beberapa negara ada aturan untuk memenuhi standard dunia. Microsoft sebagai vendor yang membuat OOXML dan BELUM menerapkannya dalam produknya menjadi kekhawatiran teknis diterimanya standard ini. Apalagi track record Microsoft untuk masalah kompatibiltias sangat buruk, bukan saja kompatibilitas dengan produk dari vendor lain, tetapi kompatibilitas antar produknya.
Kekacauan dan kekisruhan voting OOXML yang menelurkan keputusan ISO untuk menerima OOXML sebagai standard, menjadikan orang melihat kelemahan proses standardisasi ISO serta kelemahan badan seperti ISO. Kemenangan OOXML merupakan keruntuntuhan ISO, sebagai badan yang “fair” dan bebas interest.
Bagi yang ingin mengikuti keanehan voting ISO ini bisa membaca koleksi di situs NoOOXML.org [http://www.noooxml.org/irregularities]. Kalau Malaysia sepakat menyatakan No bagaimana Indonesia ? Abstain saja biar aman, atau ndak mudeng ?
Categories:
Tags: standard