Acara oprek-oprek saya dengan komputer sebetulnya didorong oleh hobby saya bermain musik. DI tahun 87-an saya mulai mengenal MIDI (Musical Instrument Digital Interface), dengan berbekal pendanaan dari Universitas Gunadarma (dulu STMIK Gunadarma), saya dapat mengoprek berbagai peralatan MIDI, dari sequencer, sampler, MIDI card, sound module. Bahkan seingat saya, saat itu tergolong pemilik sampler pertama di Indonesia (sombong dikit), maklum sebelum S-50 keluar saya sudah punya sampler (eh bukan saya, tapi Univ. Gunadarma). Saat itu Univ. Gunadarma termasuk sedikit kampus yang berani nyeleneh membeli peralatan yang belum masuk dalam “kajian” pendidikan komputer. Lembaga lain yang juga memulai oprekan MIDI adalah PAU Mikro ITB.
Tentu saja kemampuan pas-pasan saya bermain musik (saya cuma pemain musik aliran tergantung job), menjadikan saya lebih eksplorasi ke arah teknologinya. Mulailah saya mulai membaca specifikasi MIDI dengan teliti, membaca specifikasi memory dump dan SysEx dari tiap peralatan. Buntut-buntutnya akibat keterbatasan peralatan dan perangkat lunak, mendorong saya untuk mengcoding program dan membuat peralatan sendiri. Membuat program untuk memori dump, mengedit parameter synthesizer, termasuk membuat sequencer kecil-kecilan.
Dengan bantuan para mahasiswa dan asisten Lab, Gunadarma kami mengembangkan berbagai peralatan homebrew, misal controller untuk perkusi MIDI, MIDI patchbay, MIDI sinkronisasi. Saya ingat harus membuat peralatan kontroller (Apple) yang disinkonisasi dengan sequencer yang jalan di PC. Saat itu juga kami juga mencoba sinkronisasi dengan Sistem Operasi lainnya misal Amiga. Memang Lab Univ Gunadarma senang mengkoleksi beragam teknologi, baik yang populer maupun yang tidak populer.
Begitu juga di sisi program, keterbatasan wave editor menjadikan kami membuat program sendiri untuk membuat wave editor sampler tersebut. Acara explorasi itu juga membuahkan paper yang kami sajikan di seminar ilmiah. Jadi mungkin saja fun, entertainment digabungkan dengan kegiatan ilmiah.
Pada saat itu di Indonesia, relatif masih sedikit yang mengoprek MIDI. Pengguna peralatan MIDI memang banyak. Sehingga saat itu para opreker relatif saling kenal (tukar-tukaran sound, tukar-tukaran tip atau software). Bahkan acara seminar nasional MIDI yang diselenggarakan PAU MIKRO ITB, mirip bersuasana paguyuban, kumpul-kumpul orang satu hobby, ketimbang acara seminar serius. Salah satu dedengkot MIDI saat itu adalah pak Helmi Saleh (sebutan ngetopnya pak Buyung). Sayang saya hilang kontak dengan beliau.
Kenalan saya saat itu yang sering saya culik ketika saya harus demo MIDI di kampus, adalah teman kampus saya, Aning Katamsi (he he he sorry Ning ya waktu itu sering diculik, di sela-sela jadwal latihan seriosa, memang saya penyebar racun). Demo MIDI dibutuhkan sebab saat itu kebanyakan orang bila mendengar komputer untuk musik, pikirannya sound yang keluar dari Soundblaster generasi pertama, yang cuma cuit-cuit saja.
Ndak tahu deh kemana kenalan-kenalan lama saya itu. Mereka pasti masih aktif bermusik, saya cukup jadi penikmat saja. Rock on !
Categories: